Page Nav

HIDE

Grid

GRID_STYLE

Pages

Classic Header

{fbt_classic_header}

Header

//

Breaking News:

latest

Elemen Jurnalistik yang Terlupa

Wahyu Ananda (Mahasiswa Jurnalistik Islam)  Jurnalistik merupakan sebuah kegiatan yang dilakukan untuk mencari, mengolah, dan menyebar...


Wahyu Ananda
(Mahasiswa Jurnalistik Islam) 
Jurnalistik merupakan sebuah kegiatan yang dilakukan untuk mencari, mengolah, dan menyebar luaskan informasi. Atau bahasa kerennya, jurnalistik adalah sebuah kegiatan untuk mengkonstruksi sebuah realita sosial oleh wartawan menjadi teks berita yang mengandung informasi untuk disampaikan kepada masyarakat yang sedang terjadi. Sejarah menjelaskan bahwa kegiatan jurnalistik pertama kali terjadi pada saat kepemimpinan Julius Cesar, pada  zaman romawi kuno dengan hasil karya yang disebut dengan nama "Acta Diurna".

Seperti aktivitas lainnya, jurnalis yang sebutannya untuk pekerja jurnalistik memiliki pedoman yang dibuat oleh Bill Kovach yaitu, 9 Elemen Jurnalistik. Ke sembilan Elemen terbut terdiri dari: Kebenaran, loyalitas verifikasi, memiliki ideologi independen, pemantau kekuasaan. Seorang jurnalis harus pula menyediakan ruang kritik dan komentar kepada publik. Jurnalisme harus menyampaikan informasi yang menarik dan relevan, jurnalis harus menjaga beritanya agar selalu komprehensif dan Proporsional. Seorang jurnalis harus mengedepankan hati nurani mereka. Membuang hal-hal yang dapat menyinggung perasaan orang lain atau menyakiti perasaan korban.

Salah satu hal yang sering terjadi pada pengkontruksian realitas adalah pengaplikasian 9 elemen jurnalisme. Terkadang pemilihan diksi membuat orang lupa elemen kesembilan yaitu, hati nurani seorang wartawan. Sehingga, ketika membuat judul tanpa sadar mereka menyakiti perasaan korban dari berita yang dibuat. Kejadian ini biasa terjadi pada pemberitaan pelecehan atau korban asusila yang dialami oleh perempuan dan anak-anak.

Contoh berita yang sebenarnya bisa menyakiti hati korban yang ada pada pemberitaan, Gadis 13 Tahun digagahi 5 Pemuda Asing”, yang ditulis oleh  wartawan salah satu media cetak nasional. Berita ini, sebenarnya sudah objektiv. Tetapi, tidak advokasi karena cenderung menyakiti korban dan keluarganya. Diksi digagahi itu seolah-olah perbuatannya gagah, yang mestinya diadvokasi agar pelakunya diungkap dan korban tak tersakiti. Ke dua, berita yang dimuat juga oleh salah satu media nasional terkemuka dengan berjudul, Istri Jadi TKW Suami Gauli Putri Kandungnya Puluhan Kali. Menurut salah seorang wartawan senior berkata, bahwa judul yang dimuat sangat tidak bagus. Dikarenakan, dapat membuat korban menjadi trauma atau mengingat kembali kejadian yang menimpanya, saat melihat kembali berita tersebut.

Pemilihan diksi harus membuat masyarakat tidak memiliki stereotype terhadap korban. Dari contoh berita diatas bisa dikatakan, bahwasanya junalis memberikan stereotype kepada masyarakat. Walaupun berita di atas berisi prinsip jurnalisme yaitu, objektiv namun tidak bagus dalam pemilihan diksi yang digunakan. Akan tetapi, harus mememikirkan perasaan korban dan keadaan psikologisnya. Hal ini bertujuan agar kedepannya tidak menjadi momok atau trauma bagi para korban. Inilah fungsi dari elemen ke sembilan jurnalisme yaitu, menggunakan hati nurani wartawan.

Oleh karena itu,  pada saat pemilihan diksi atau kata kita bisa menebak perasaan korban, jika kita berada pada posisi mereka. Maka dari itu, penggunaan hati nurani seorang jurnalis melebih segalah hal. Bahkan, kita harus rela tidak memuat berita yang memang bertentangan dengan hati nurani. Seorang jurnalis harus juga memliki ideology yang teguh supaya tidak ada yang dapat mengganggu ketika yang diperintahkan berlawan dengan hati nurani bukan malah sebaliknya.

Model jurnalisme yang bisa menjadi solusi untuk permasalahan ini yaitu, jurnalisme advokasi. Menurut Morris Janowitz, dalam buku panduan jurnalis berperspektif perempuan dan anak, jurnalisme advokasi menempatkan seorang wartawan atau jurnalis dalam posisi sebagai interpreter dan partisipan aktif yang berbicara atas nama kelompok-kelompok tertentu khususnya kelompok yang terabaikan oleh media. Saat melaksanakan tugas jurnalisme, para jurnalis lebih melandasi oleh dorongan dan semangat untuk melakukan reformsai, untuk mempromosiakan satu perspektif yang dapat salah ditafsirkan di media massa. Jurnalisme advodkasi sebenarnya tidak menafikkan prinsip objektivitas dalam pemberitaan. Melainkan, setiap pemberitaan dalam jurnalisme advodkasi harus didasari oleh fakta, inilah yang membedakan jurnalisme Advil's Dan propaganda.

Di hari Pers ini, semoga jurnalis senantiasa diberikan masa depan yang lebih baik dan mendapatkan lindungan Allah Swt dalam menjalankan tugasnya.

Tidak ada komentar