Page Nav

HIDE

Grid

GRID_STYLE

Pages

Classic Header

{fbt_classic_header}

Header

//

Breaking News:

latest

Tips menepi sedih di tengah covid-19

Andi Siti Tri Insani Mahasiswi Jurnalisti k Islam Virus corona masih terus berlangsung bersamaan dengan dampaknya yang tajam me...


Andi Siti Tri Insani Mahasiswi Jurnalistik Islam
Virus corona masih terus berlangsung bersamaan dengan dampaknya yang tajam menyerang. Memasuki bulan kedua semua publik sudah tahu kejahatan wabah ini. Masyarakat dibuat sedih, takut, cemas, dan panik. Sebagian orang kebablasan dalam memerangi dan menghadapinya. Banyak polemik yang sudah terjadi namun sangat sedikit yang bisa memahaminya. Hal ini dikarenakan kekhawatiran yang melanda masyarakat karena takut menjadi santapan wabah ini.


Perlu diakui memang virus corona musabab dari setiap polemik yang terjadi. Namun akankah wabah ini yang akan terus disalahkan hingga menguras tenaga?. Berpikir sejauh itu hanya kapasitas orang-orang yang bernyali kuat. Namun adakah yang berpikir apa maksud dari semua yang terjadi?. Bisa saja fenomena ini sebagai bentuk arahan untuk bermuhasabah diri. Bila dipikirkan terlalu mengulur banyak waktu hingga sedih semakin melanda. Untuk itu, menemukan solusi menepi sedih menjadi hal yang bemanfaat baik diri sendiri maupun orang lain.


Sesuai himbauan pemerintah dengan menerapkan social distancing dan physical distancing. Hal ini dimaksudkan kepada masyarakat untuk menjaga jarak sosial dan jarak fisik guna menguragi penyebaran pendemi ini. Namun hal ini tak semudah dibayangkan tetapi disisi lain memberi manfaat. Mengalihkan lara dengan aktivtas yang produktif di rumah, menjadikan hari-hari yang dijalankan lebih bermanfaat.


Seperti yang dikatakan para ulama-ulama yang menganjurkan untuk tidak larut dalam kesedihan atas apa yang terjadi. Kini yang perlu dilakukan adalah memiliki kesadaran tinggi sebab amukan bumi ini terjadi karena ulah manusia. Dan sekarang pun tidak ada waktu untuk saling menyalahkan melainkan persatuan yang diharapakan. menyikapi hal ini sebagai seorang muslim hendaklah bertawakal dan kembali ke ajaran agama. Memperbanyak muhasabah pun dapat menjadikan kegiatan dirumah lebih produktif.


 Hanya Allah tempat meminta Perlindungan

Fallohu khoirun haafizhow wa huwa ar-hamur-roohimin”, Maka Allah adalah sebaik-baiknya penjaga dan dialah Maha Penyayang diantara para penyayang. (Q.S Yusuf ; 64).

Potongan surah ini mengarahkan untuk senantiasa meminta perlindungan hanya pada Allah Swt. Terkait dengan social distancing muhasabah kita bisa menjadi kuat dengan memahami bahwa virus corona merupakan bagian kecil makhluk Allah. Tidak ada yang mampu menggerakkan kecuali atas kehendak dan izinnya. Maka dari itu, sebelum kita berlindung pada kemampuan diri sendiri hendaklah berlindung pada Allah sebab Allah sebaik-baiknya pelindung, penyayang, dan penjaga.

Melakukan ikhtiar

Ikhtiar bagian terpenting yang dilakukan setelah memohon perlindungan. Melakukan pencegahan ini dalam bentuk ikhtiar berupa rutin mencuci tangan, memakan makanan yang baik, menjaga kebersihan, membiasakan memakai masker, dan yang terpenting berupaya menghindari keramaian alias tetap dirumah. Ikhtiar ini membuat kegiatan rumah menjadi produktif dan bila dilakukan secara rutin maka pikiran akan teralihkan pada aktivitas ini hingga mengurangi kekhawatiran yang dirasakan terhadap wabah ini.


Ikhtiar dilakukan tidak hanya seorang diri melainkan dapat dikerjakan secara bersama terkhusus dalam pencegahan wabah ini. Seperti yang dihimbaukan pemerintah untuk melakukan social distancing, physical distancing atau isolasi mandiri di rumah masing-masing. Hal ini berkaitan dengan hadis bukhari dan muslim. “Apabila kalian mendengar tentangnya (wabah penyakit) di sebuah tempat, maka janganlllah kalian masuk ke dalamnya, dan bila kalian berada didalamnya, mak janganlah kalian keluar daripadanya sebagai bentuk dari padanya”.


Yakin kepada Allah

“Wa laa tahinuu wa laa tahzanuu waantul a’launa ing kuntum mu’miniin”, Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang yang beriman. (Q.S. Ali Imran :139).

Dalam keadaan apapun kita diperintahkan untuk selalu yakin kepada Allah Swt sebagai penggerak bumi. Keyakinan ini berupa kekuatan iman kita atas segala keagungannya. Menyangkut pautkan pada virus corona yang merupakan bagian ciptaan Allah, semestinya sebagai seorang muslim hendaklah menepikan kesedihannya. Memang tidak mudah tetapi bukan berarti tidak bisa. Namun hal ini dapat mengukuhkan kesedihan, ketakutan, dan kekhawatiran pada wabah ini. Bukankah Allah pemilik segalanya, bila kita yakin maka semua akan tetap baik.


Senantiasa bertawakkal pada Allah

Setelah melakukan cara di atas maka yang menjadi point utama adalah bertawakkal pada Allah Swt. Hal ini menjadi penentu akan usaha kita dalam menyikapi virus corona ini melalui ajaran agama. Tawakkal berupa berserah diri atas kehendak dan ketentuan Allah berdasarkan usaha yang kita jalani. Berdiam diri di rumah akan menjadi  produktif bila kita mendekatkan diri tidak hanya sebagai penolong tetapi juga menjadi amal ibadah saat dilakukan dengan tulus hati.

Seperti kita ketahui secara bersama bahwa ajal pasti akan datang menjemput. Untuk itu, setelah usaha yang kita lakukan sebagai pendekatan diri kepada Allah Swt, maka berserah diri yang dilakukan dengan yakin pada Allah sembari berharap kita menjemput ajal dengan husnul Khotimah sekalipun itu karena virus corona.

Tidak ada yang tahu kapan semua ini berakhir, maka yang menjadi tugas kita adalah terus berjuang. Tidak dipungkiri kesedihan menjadi nyanyian masyarakat setiap harinya. Dan itu bukanlah sesuatu yang salah. Atensi publik terpasung pada fenomena ini, masyarakat seakan dimonopoli akan setiap adegan nyawa yang direnggut. Untuk itu, kita mesti bersatu agar harap masih terus berlanjut.




Tidak ada komentar