Page Nav

HIDE

Grid

GRID_STYLE

Pages

Classic Header

{fbt_classic_header}

Header

//

Breaking News:

latest

Transformasi Diri (taqallub) di Bulan Ramadan

Muhammad Qadaruddin ( ketua Prodi Jurnalisti k Islam IAIN Parepare ) Bulan Ramadan kali ini banyak hal yang berbeda dari Ramadan ...

Muhammad Qadaruddin (ketua Prodi Jurnalistik Islam IAIN Parepare)


Bulan Ramadan kali ini banyak hal yang berbeda dari Ramadan sebelumnya terutama segala aktifitas dilakukan di rumah (WFH) selain itu rumah menjadi pusat pendidian anak (SFH), pusat ibadah, perubahan yang begitu cepat membutuhkan kemampuan untuk menyesuaikan diri, jika tidak mampu bersahabat dengan kondisi, maka kita akan kehilangan kebahagiaan. Apa yang membuat orang bahagia? setiap orang menginginkan kebahagiaan, namun terkadang kebahagiaan hanya diukur dan dilihat dari aspek lahiriyah dan duniawi: harta kekayaan, kenikmatan, kedudukan. Tidakkah kita berpikir bahwa kebahagiaan itu tidak hanya diukur secara lahiriyah, namun juga jiwa dan ruhania, ketenangan jiwa “nafs mutmainnah”.  Ketenangan jiwa dan ruhania  dapat diukur dengan kondisi qolbu dan pikiran yang positif. Dalam menghadapi kondisi saat ini adalah dengan Pikiran dan qolbu  yang saling terintegrasi.
Hati yang positif (qolbu salim) akan membuat otak bekerja secara maksimal, hati dan pikiran positif akan membuat kebahagiaan dan menciptakan kreatifitas dan produktifitas. Bagi kalangan yang mengagungan akal cenderung mengabaikan hati (qulub) begitupula bagi yang mengagungkan hati (qulub) cenderung mengabaikan akal. Ke dua kelompok ini bisa dikatakan filusuf dan sufi, jika keduanya digabungan maka akan lahir manusia sempurna (insan kamil).  Manusia yang mampu mengoptimalan diri (nafs) akal dan hatinya dalam segala aktifitas.
Kata kamil dalam bahasa arab adalah sempurna (perfect) tamam yang berarti lengkap, insan kamil lebih pada kesempurnaan secara jiwa (nafs) yang senantiasa bergerak menuju ruhani. Manusia menurut Ibn Arabi adalah mikrokosmos yang menggabungkan semua alam makrokosmos, manusia adalah alam shagir alam kecil.  
Kita menemukan banyak orang yang cacat secara fisik namun mampu melebihi orang yang sempurna secara fisik.  Begitupula sebaliknya sempurna secara fisik, namun sakit secara mental, ini biasa dikenal dengan complex atau sakit mental. Nafs manusia ada yang positif dan negative, diri (nafs) yang senantiasa bergerak kepada ruhani adalah nafs yang positif, sementara nafs yang senantiasa menjauh dari Allah adalah nafs negatif. Nafs senantiasa berubah, oleh karena itu dibulan Ramadan ini kita mendekatkan diri (nafs) pada Allah taqallub atau tranformasi menuju sang pencipta.
Dalam QS. At-Tin ayat 5 dikatakan bahwa ”sesungguhnya telah kami ciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk” kata insan  berasal dari kata nasiya-yansa yang berarti lupa, lupa merupakan symbol adanya akal manusia. Pikiran merupakan ukuran kesempurnaan manusia karena akal adalah pondasi keimanan. Namun akal tanpa keimanan adalah buta sebagaimana dalam al-Quran Bani Israil: 72 dikatakan bahwa ”dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat ia akan lebih buta, lebih tersesat”, oleh karena itu insan kamil adalah manusia yang menggabungan antara akal, hati dan ruh.
Sering kali kita menemukan orang yang kaya tapi bunuh diri, orang yang beriman, namun kehilangan peradaban, suatu pekerjaan tidak dapat selesai dengan baik karena kondisi emosi lagi kurang baik “galau, tidak bisa move on”. Seorang penulis susah menemukan ide tulisan karena emosinya tidak stabil, begitupula pekerjaan yang lain, membutuhakan pikiran dan emosi positif.
Mengelola hidup tidak sekedar menggunakan akal saja, atau hanya menggunakan hati, akan tetapi mengelola hidup diperlukan akal dan hati, bagi seorang siswa dan mahasiswa bukan hanya persoalan tingginya indeks prestasi akademik, bukan persoalan pintar atau bodoh, bagi seorang pekerja bukan persoalan mendapatan jabatan atau penghargaan, akan tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana prestasi, jabatan yang diperoleh dengan hati dan pikiran. Mengelola emosi, memotivasi diri, membangun simpati dan empati, membangun hubungan yang positif, sehingga menghasilan diri (nafs) atau individu yang cerdas dan juga memiliki sensitivitas sosial (insan kamil). Begitupula dalam keluarga tidak hanya disibukkan persoalan harta, akan tetapi yang paling penting adalah mengelola emosi dalam keluarga, membangun hubungan yang lebih positif, keterbukaan “self disclouser” bagaimana jadinya jika dalam rumah tangga perbincangan hanya seputar harta saja, tidak pernah membicarakan persoalan agama, atau sebaliknya, kondis keluarga jauh dari keharmonisan.  
Begitupula seorang pemimpin bukan hanya persoalan menata tempat kerja dengan akal, akan tetapi mempu mengelola hati, membangun tempat kerja yang lebih memberikan ketenangan hati bukan ketakutan, walaupun tempat kerja dipenuhi dengan AC atau pendingin ruangan, akan tetapi pemimpinnya tidak mampu mengelola hati bawahannya maka, ruangan yang dingin tidak akan mampu mendinginkan suasana atau iklim organisasi.
Ada 2 hal yang dapat dilakukan dalam mengoptimalkan diri, yang pertama adalah takziyatun nafs atau mensucian diri dengan ibadah salat, puasa, zakat. Kedua adalah wara atau meninggalan hal-hal yang dapat merusak ibadah dan amal, di bulan Ramadan ini untuk mencapai fitrah maka kita harus mengoptimalkan nafs.
Wara dengan mengoptimalkan pikiran bawah sadar dalam menciptakan jati diri (nafs), segala sesuatu permasalahan dimulai dari mindset jika pikiran tidak baik maka segalanya akan tidak baik "sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu kaum hingga dia tidak mengubah dirinya" jika seseorang tidak bisa menyelesaikan masalahnya maka dia bagian dari masalah itu, segala sesuatu harus dimulai dari diri (ibda binafsi) karena hidup itu memiliki melodi "bila diri positif maka akan memancarkan sisi positif untuk orang sekitar kita" memulai hari dengan kegiatan positif maka sepanjang hari hidup akan pisitif,  dalam diri memiliki magnet bagi lingkungan, mensugesti diri dengan hal positif dapat memancarkan aura positif.
Tazkiyatun nafs dengan mengoptimalan ruhani dengan sholat, doa, puasa dst ibadah ini mampu membuat tubuh kita rileks, dimana pikiran berada pada gelombang otak alfa dan theta, dimana otak merasa rileks, kehidupan itu membuat tubuh bekerja keras, sehingga ada saat dimana kita butuh rehat sejenak untuk "berdamai dengan diri" menonaktifkan pikiran kritis kita yang senantiasa melawan diri hingga membuat kejenuhan, ketegangan sehingga pikiran lebih dominan dari hati, terkadang kita butuh ke alam bawah sadar untuk menggali potensi yang lebih besar "Allah telah mengajarkan tentang nama nama benda semuanya" ayat ini menunjukkan bahwa manusia memilki potenai besar saat diciptakan hanya saja potensi itu perlu diangkat ke alam sadar dengan rileksasi, oleh karena itu bulan Ramadan adalah bulan transformasi diri menuju sang pencipta.
           

Tidak ada komentar